shivkumarganesh.in Just another WordPress site

April 23, 2016

Perbedaan antara Espresso dengan Kopi Biasa

Filed under: Uncategorized — admin @ 1:31 am

Fri, 01 April 2016, Ditulis oleh halodunia

Kuliner


 

espresso

Kopi diyakini memiliki asal-usul dari Ethiopia, tempat kelahiran tanaman kopi, dengan budidaya awal dimulai sekitar abad ke-9.

Sedangkan kopi espresso dikatakan memiliki permulaan di Semenanjung Arab pada abad ke-16.

Terdapat berbagai gaya berbeda dalam penyeduhan kopi dengan salah satu yang biasa dilakukan di rumah adalah kopi yang disaring (filtered coffee atau drip brewing).

Drip coffee biasanya menjadi pilihan pertama bagi banyak penggemar kopi.

Namun, kopi espresso yang lebih terkonsentrasi karena sistem penyeduhannya yang menggunakan tekanan tinggi juga memiliki basis penggemar yang sangat setia.

Espresso dan kopi biasa berbeda dalam berbagai hal seperti ukuran penyajian, tekstur, dan rasa. Kandungan kafein dalam kedua jenis kopi juga tidak sama.

Selain itu, biji kopi yang digunakan, waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan, dan metode pembuatan yang digunakan adalah beberapa faktor lain yang membedakan coffee drip biasa dari espresso.

Berikut adalah beberapa faktor yang membedakan antara espresso dengan kopi regular:

♦ Kopi espresso selalu disajikan dalam takaran yang disebut shot dengan volume sekitar 30 – 45 ml. Penyajian biasanya dilakukan dalam ukuran double shots yang setara dengan 60 – 90 ml.

♦ Kopi reguler biasanya disajikan dalam cangkir ukuran 240 ml yang secara substansial lebih besar dari espresso shot.

Kandungan Kafein

♦ Jumlah kafein dalam espresso lebih tinggi per satuan volume dibandingkan dengan kopi biasa. 1 shot espresso mengandung hingga 64 mg kafein.

Namun, jika meninjau dari ukuran per porsi, espresso memiliki jumlah kafein lebih rendah daripada kopi biasa.

♦ Satu cangkir kopi reguler dengan volume 240 ml mengandung total 95 sampai 200 mg kafein.

Biji Kopi

♦ Espresso menggunakan biji kopi yang digiling halus. Tekstur biji kopi espresso giling mirip dengan gula bubuk.

♦ Biji kopi yang digunakan dalam kopi biasa lebih kasar dari yang digunakan dalam kopi espresso.

Tekstur

♦ Espresso memiliki konsistensi lebih tebal dari kopi biasa. Espresso shot memiliki tekstur kental dengan lapisan creamy di atasnya.

Karena teksturnya yang kental, espresso sering lebih disukai daripada kopi reguler.

♦ Kopi reguler lebih ringan dan memiliki tekstur lebih cair dibanding espresso.

Waktu Penyeduhan (Brewing Time)

♦ Kopi espresso diseduh dalam waktu singkat (20-30 detik) sehingga dianggap sebagai salah satu metode paling mudah dalam menyeduh kopi.

♦ Waktu penyeduhan kopi biasa jauh lebih lama, antara 4 sampai 6 menit.

Metode Penyeduhan

♦ Ketika membuat espresso, air hampir mendidih pada tekanan sampai 15 atmosfer dialirkan melalui biji kopi halus yang terkompresi.

Proses penyeduhan terjadi kurang dari setengah menit untuk kemudian cairan kopi kental berwarna coklat tua dipisahkan dari ampas kopi.

Cairan kopi kental ini ketika dituangkan dalam sebuah wadah, memiliki sejumlah kecil buih di atasnya.

♦ Kopi regular, di sisi lain, merupakan metode penyeduhan kopi lebih lambat di mana air mendidih dibiarkan menetes melalui bubuk kopi.

Air merembes melalui biji kopi yang digiling kasar untuk kemudian dikumpulkan dalam sebuah wadah.

Perangkat menyeduh kopi seperti French press dan drip filter coffee maker umum digunakan untuk melakukan proses ini.

Rasa

♦ Sebuah espresso shot sangat terkonsentrasi dan memiliki rasa kuat dan intens.

Dosis kafein lebih terkonsentrasi dalam espresso dapat menyebabkan jantung berdebar-debar dan kegelisahan.

♦ Seperti disebutkan di atas, kopi reguler memiliki waktu penyeduhan lebih panjang, yang berarti air panas tetap dalam kontak dengan bubuk kopi kasar dalam durasi yang lebih lama.



Warga Asing Suka Klepon

Filed under: Uncategorized — admin @ 1:30 am

Ternyata dan Anyam Eceng Gondok

Sat, 05 March 2016, Ditulis oleh halodunia

Kuliner


 

wisatawan
Wisatawan TPO menikmati proses membuat Klepon di Balai Pemuda. (Foto: Humas Pemkot)

Kota Surabaya dengan berbagai macam daya tarik wisatanya selalu menjadi perhatian dunia. Paling tidak, bagi masyarakat Asia Pasifik yang Minggu lalu (17/1) tiba di Kota Pahlawan.

Sebanyak 15 wisatawan yang tergabung dalam Tourism Promotion Organization for Asia Pasifik Cities (TPO atau Organisasi Pariwisata se-Asia Pasifik) berkunjung ke Surabaya. Rencananya, selama 14 hari. Mereka datang untuk belajar bahasa Indonesia dan budaya yang terdapat di sini.

Mereka berniat mengunjungi berbagai lokasi wisata. Misalnya, kawasan bersejarah, pasar rakyat, sentra UKM, hingga kampung Gundih yang keramahannya mendunia. Selasa lalu (19/1), mereka berkunjung ke Rumah Bahasa yang ada di Balai Budaya.

“Ini kali kedua mereka belajar bahasa Indonesia di Rumah bahasa. Masih ada enam pertemuan lagi. Hari ini dan besok seluruh acara akan dipusatkan di Balai Pemuda. Kegiatannya, mulai dari membuat kuliner khas Surabaya hingga membuat kerajinan anyaman yang terbuat dari enceng gondok,” kata perwakilan Disbudpar Ida Widayati Selasa (19/1) lalu.

Ida menambahkan, mayoritas wisatawan ini berlatar belakang mahasiswa. Rentang usianya 19 hingga 22 tahun. Berasal dari Korea Selatan, Malaysia, Jepang dan China.

Ehm, asline yo gak kabeh arek enom. Buktinya, ada Ms. Jumnam, peserta asal Korea Selatan yang berusia 53 tahun. Gak masalah. Belajar itu tidak memandang usia.

“Senin malam (18/1) para tamu ini diterima oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Surabaya Nurwiyatno di kediaman Wali Kota. Dalam kesempatan itu para tamu menikmati kuliner Surabaya seperti rawon dan soto. Beberapa dari mereka bahkan menghabiskan dua hingga tiga mangkok makanan. Ini bukti bahwa kebudayaan Surabaya berupa kuliner ternyata bisa dinikmati oleh masyarakat dari negara lain,” imbuh Ida.

Tak hanya belajar bahasa Indonesia, para partisipan ini juga diajarkan untuk membuat kuliner Surabaya berupa Klepon. Kudapan ringan yang dibuat dari tepung beras dan berisi gula merah ini ternyata tidak asing bagi ChaenYeon Kim (20).

Partisipan dari Korea Selatan ini merasa, klepon yang dia buat mirip Dduk/ Tteok (Kue Beras ala Korea Selatan). Nantinya, setelah kembali ke Korea Selatan, dia berencana akan membuat klepon bagi keluarganya.

Mr. JaeDong Cho selaku chef of South Asia TPO menyebutkan, organisasi yang berpusat di Busan, Korea Selatan ini memilih enam kota dari lima negara. Yakni Indonesia, Vietnam, Rusia, China, dan Jepang. Surabaya merupakan kota pertama di Indonesia sebagai tuan rumah TPO. Selama dilakukan survey, Surabaya dinilai paling banyak ragam dan lokasi wisatanya.

“Saya ingin para anggota TPO bisa mengeksplorasi Indonesia. Dimulai dari Surabaya,” kata dia.

Sumber : Maknews.id



Baca Donks

Filed under: Uncategorized — admin @ 1:29 am

Suka Bakso..?? 

Mon, 07 March 2016, Ditulis oleh halodunia

Kuliner


 

Bakso lezat

 

Tahukah Sejarah Munculnya Makanan Bakso

 

Siapa yang sih yang tidak kenal bakso yang paling enak disantap di waktu santai apalagi pada saat cuaca hujan J. Mungkin hampir seluruh indonesia banyak di jumpaiin pedagang bakso di jalanan baik menjual pakai gerobak, pinggir di tepi jalan ( ini paling banyak dijumpain ), diruko, yang paling bermodal jualan di plaza ( lebih elit ). Tapi biasanya penulis paling suka makan di pinggir jalan. Kenapa ya??? Selain enak juga terbawa suasana J

 

Mari kita ke topik utama. Apakah anda tahu asal mula bakso yang anda sering makan. Kita artikan Kata Bakso berasal dari kata BAK – SO, dalam bahasa hokkien berarti “ daging babi giling “ karena kebanyakan orang indonesia adalah muslim maka bakso lebih umum di buat dari bahan halal daging ayam, sapi ataupun ikan.

 

Pada awal abad ke -17 akhir Dinasti Ming di Fuzhou, Hidup seorang pria bernama Meng Bo yang tinggal di sebuah desa kecil. Meng Bo sangat baik dan sangat berbakti kepada orang tuanya. Kebaikan dan bakti kepada ibunya sudah dikenal di kalangan tetangganya. Suatu hari, ibunya yang sudah mulai tua sudah tidak dapat makan daging lagi, karena giginya sudah mulai tidak bisa makan sesuatu yang agak keras. Ini sedikit mengecewakan karena dia suka sekali makan daging.

Meng Bo ingin membantu ibunya agar bisa mengonsumsi daging lezat lagi. Sepanjang malam duduk, memikirkan bagaimana mengolah daging yang bisa dimakan oleh ibunya. Hingga suatu hari, ia melihat tetangganya menumbuk beras ketan untuk dijadikan kue mochi. Melihat hal itu, timbul idenya. Meng Bo langsung pergi ke dapur dan mengolah daging dengan cara yang digunakan tetangganya dalam membuat kue mochi. Setelah daging empuk, Meng Bo membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil sehingga ibunya dapat memakannya dengan mudah. Kemudian ia merebus adonan itu, tercium aroma daging yang lezat.

Meng Bo menyajikan bakso itu kepada ibunya. Sang ibu merasa gembira karena tidak hanya baksonya yang lezat, tapi juga mudah untuk dimakan. Meng Bo sangat senang melihat ibunya dapat makan daging lagi.

Cerita bakti Meng Bo cepat menyebar ke seluruh kota Fuzhou. Penduduk berdatangan terus menerus untuk belajar membuat bakso yang di buat Meng Bo. Dan resep terus menyebar dari keluarga ke keluarga lain, kota ke kota lain dan bahkan sekarang diindonesia.

Mungkin bentuk dan rasa yang di buat Meng Bo dan kita makan sehari-hari pasti beda. Cuma sama-sama daging empuk yang di buat bulat2.  Diindonesia bakso sudah dikembangkan resepnya jadi beda2. Dari segi warna bakso, resep soup dan lain2 sudah berbeda dari dulu sampai sekarang.



February 19, 2015

Gado Gado

Filed under: Uncategorized — admin @ 4:39 am

Awal Makanan

Mon, 07 March 2016, Ditulis oleh halodunia

Kuliner


 

sejarah & asal usul gado-gado

 

Gado-gado
Dalam kehampaan sejarah tentang asal-muasal gado-gado, kita anggap saja gado-gado adalah sajian khas Betawi. Tetapi, gado-gado sudah sejak lama menembus keluar Jakarta dan telah pula menjadi hidangan yang sangat populer di seluruh Indonesia. Gado-gado muncul pada daftar makanan di restoran dari Sabang sampai Merauke. Bahkan banyak orang asing mengenali gado-gado – di samping nasi goreng – sebagai carte du jour nasional Indonesia.

Bahkan asal kata gado-gado pun masih gelap. Mungkinkah itu berasal dari bahasa Prancis? Atau Belanda? Atau Portugis? Tidak ada satu pun kamus Bahasa Indonesia yang dapat menjelaskan dari mana asal kata gado-gado. Bahkan dalam bahasa Betawi – yang untuk sementara kita sepakati sebagai asal-muasal dan tempat terpopuler untuk makan gado-gado – tidak dikenal istilah asli yang dapat menjelaskan asal kata gado-gado. RRI Studio Jakarta dulu punya acara obrolan yang amat populer antara seorang tukang sado (Bang Madi) dan tukang gado-gado (Mpok Ani). Keduanya adalah tokoh legendaris yang telah ikut menanamkan claim bahwa gado-gado adalah hidangan khas Betawi.

Gado-gado bahkan menjadi istilah untuk segala macam yang sifatnya merupakan adukan dari berbagai unsur. Misalnya, bahasa gado-gado untuk mengatakan bahasa campur-campur. Perkimpoian gado-gado adalah untuk dua mempelai yang punya latar belakang suku, agama, atau ras yang berbeda. Gado-gado barangkali juga merupakan istilah rakyat untuk mengatakan Bhinneka Tunggal Ika atau keberagamaan.

Kita hanya dapat memperkirakan asal nama gado-gado. Orang Jawa biasanya memakai istilah digado untuk makanan yang bisa dimakan tanpa nasi. Gado-gado, sekalipun sering dimakan dengan lontong, memang jarang dimakan dengan nasi. Bila dimakan dengan lontong, gado-gado memang merupakan a meal in itself, bukan lauk. Di Jawa ada makanan yang disebut gadon karena bisa dimakan tanpa nasi.

Mungkin karena claim yang kabur tentang gado-gado inilah maka kita tak dapat memperjuangkan claim resmi sebagai pemilik hak cipta atas gado-gado. Seorang pembaca “Jalansutra” di New Zealand bahkan dengan geram menemukan temuannya karena restoran Malaysia di sana menyebut gado-gado sebagai hidangan nasional Malaysia.

Pada dasarnya, gado-gado adalah campuran berbagai sayur rebus yang dibubuhi bumbu atau saus dari kacang. Sayur-mayur rebus yang dipakai biasanya adalah bayam atau kangkung, kacang panjang, tauge, labu siam, jagung, nangka muda, pare (paria), kol (kubis). Di atas sayur rebus itu dibubuhi lagi berbagai “asesori” seperti tahu goreng, tempe goreng, kentang goreng atau rebus, telur rebus, dan timun (tidak direbus) yang diiris tipis. Terakhir, setelah diberi bumbu kacang, ditaburi lagi bawang goreng dan kerupuk. Kerupuknya bisa emping mlinjo, kerupuk merah, kerupuk udang, atau kerupuk Palembang. Jenis kerupuk yang dipakai biasanya menentukan murah-mahalnya gado-gado.

Gado-gado mengenal dua varian bumbu atau saus kacang. Yang pertama dan paling disukai adalah bumbu yang diulek secara individual. Bumbu ulek ini disukai karena dianggap lebih fresh, dan lebih eksklusif. Misalnya, ada orang yang ingin cabenya lebih banyak, atau tanpa kencur, atau mau ditambah daun jeruk purut yang diulek dan diratakan ke seluruh cobek agar memberi keharuman dan citarasa yang khas.

Varian yang kedua adalah bumbu yang sudah dipersiapkan dalam jumlah banyak dan tinggal disiramkan ke atas campuran sayur dan asesorinya. Ada pula yang merebus bumbu atau saus kacang ini sebentar agar semua elemen bumbunya menyatu. Apa pun jenis bumbu yang Anda pilih, pada akhirnya citarasa pribadilah yang menentukan.

 



Powered by WordPress